Sejarah Singkat Terbentuknya Desa Teluk Pandan

Teluk Pandan adalah perkampungan kecil yang awal mulanya di huni oleh beberapa, Kepala Keluarga (KK) dan di buka oleh orang-orang dari Sulawesi Selatan. Di muara sungai terdapat sebuah pohon Pandan yang tumbuh dan letak muara sungainya berada di Teluk/pulau.
Maka orang yang pertama kali menghuni memberi nama TELUK PANDAN, yang sifatnya hidup di kawasan Teluk dan berteduh di bawah pohon pandan yang artinya (Sejuk, Damai, dan Sejahtera). Perkampungan Teluk Pandan mulai di huni sekitar tahun 1960 Kepala Keluarga, namun pada saat itu orang-orang belum menetap, hanya pada saat musim menanam padi dan setelah musim panen mereka kembali lagi ke Bontang menggunakan perahu dayung (sampan) dengan menempuh perjalanan -+ 6 jam. Pada waktu itu kebanyakan penduduk Teluk Pandan adalah orang orang (Sekattu) Bontang Utara dan sekarang perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) Bontang.
Teluk Pandan merupakan penghasil padi yang terbesar di Bontang, dalam waktu empat tahun masyarakat mulai menetap dan membangun rumah tempat tinggal dan rumah ibadah di Dusun Pelabuhan RT 02 (Masjid Al-Istigfar. Sampai sekarang). Teluk Pandan berada dalam kawasan Sawka Marga Satwa atau namanya sekarang Taman Nasional Kutai (TNK) di mana masyarakat bekerja dengan pengawasan Polisi Kehutanan (PPA) yang memang bertugas untuk mengawasi hutan lindung serta hewan dan tumbuhan di dalam hutan.
Taman Nasional Kutai juga memiliki pos-pos penjagaan di muara sungai dan Teluk Pandan Hilir, (sekarang RT 02 Dusun Pelabuhan). Warga yang sudah lama menetap memanggil keluarganya dari Sulawesi Selatan karna lahan pertanian sangat luas dan subur, hingga pada tahun 1970 dan 1975 Teluk Pandan warga sudah mencapai -+ 50 s/d 60 Kepala Keluarga pemerintah sudah mendirikan sekolah dasar (SD INPRES 014), Bapak Buhaerah pun menjadi Kepala Sekolah.
Masyarakat secara gotong royong membangun fasilitas umum seperti lapangan Sepak Bola (Lapangan Pada Idi sekarang) Sekolah dan Masjid Al-Istigfar Dusun Pelabuhan. Pada saat itu pemerintahaan masih di bawah Pemerintah Kota Bontang dan di Teluk Pandan di pimpin oleh (Kepala Padang) dalam bahasa Bugisnya Kepala Kampong yaitu Bapak H Dg Masserang dan pada saat itu sederajat dengan Kepala Desa. Adapun nama-nama tokoh yang berperan dalam pemerintahan Teluk Pandan yaitu Bapak Alm, H. Hasan (Kepala Dusun) kemudian dan H. Baco Rombe (Kepal Adat) dan Alm, Bapak Tahang (Ketua RT). Dan pada tahun 1990 jalan poros Bontang-Sangatta melewati pertengahan Teluk Pandan. Walaupun saat itu masyarakat menentang keras dengan adanya jalan tersebut karena melewati perkebunan warga.
Peran seorang tokoh Bapak H. Baco Rombe dan Alm, Bapak Tahang berhasil membujuk warga tanpa dengan ganti rugi. Pada tahun 1994 Bontang menjadi Kota Administratif (KOTIF) sehingga Teluk Pandan dinyatakan menjadi masuk wilayah Sangatta pada saat itu masih di bawah Pemerintah Tenggarong (KUTAI) Kemudian pada tahun 1997 Teluk Pandan di bentuk menjadi Desa Penghubung/Persiapan yang di pimpin oleh Bapak H. Rustam HS dan Drs Hasan Said (Sekdes), dan tokoh masyarakat lainnya, kurang lebih dua tahun menjadi desaa persiapan, pada tahun 1999 Desa Teluk Pandan resmi menjadi Desa Defenitif. Dan pertama kali masyarakat memilih Kepala Desa secara langsung, dan pada saat itu H. Andi Mappasereng dengan suara terbanyak terpilih sebagai Kepala Desa yang pertama, Pada Tanggal 14 April 1999 Andi Sereng pun di lantik menjadi Kepala Desa Untuk 8 tahun kedepan.
Pada tahun 2007 H. Andi Mappasereng kembali terpilih menjadi Kepala Desa Teluk Pandan hingga tahun 2013. Tahun 2014 Baharuddin B.S.Ag melanjutkan roda kepemimpinan Desa Teluk Pandan hingga tahun 2020. Di tahun 2021, Andi Herman Fadli yang juga putra dari H. Andi Mappasereng meraih suara terbanyak pada pemilihan Kepala Desa Teluk Pandan, yang
masa jabatannya hingga tahun 2027.
\Setelah resmi menjadi Desa Defenitif dan akses Jalan Poros Bontang-Sangatta mulaimembaik, warga masyarakat dari luar Teluk Pandan pun semakin banyak untuk berdomisili di Teluk Pandan pun semakin banyak untuk berdomisili di Teluk Pandan, warga mulai membuka lahan yang ada di sepanjang jalan poros, dan mendapat pengawalan ketat dari pihak polisi kehutan dan warga pun ada yang di tangkap, khususnya bagi mereka yang tinggal dan membuka lahan pemukiman di daerah Taman Nasional Kutai (TNK).
Setelah Kutai memekarkan beberapa Kabupaten dan Sangatta resmi menjadi Kabupaten Kutai Timur dan Bupatinya adalah Drs H. Awang Faroek Ishak, MM.MSi dan Wakilnya H. Mahyuddin,ST MM. Mendapat perhatian khusus masalah Taman Nasional Kutai. Pemerintah pun melakukan dialog dengan instansi yang terkait, sehingga sepakat membuat wacana untuk di
Encave (Batas) sebagian wilayah TNK, agar warga yang ada dalam kawasan TNK dapat bekerja dengan aman tanpa harus takut dan kejar-kejaran dengan Polisi Kehutanan. Kerjasama antara pemerintah Daerah dan Pemerintah Desa Teluk Pandan pun berhasil menencave sebagian wilayah Taman Nasional Kutai (TNK). Warga pun berterima kasih pada Tuan Awang Faroek, Tuan Mahyudin, dan Tuan Andi Sereng.
Pada tahun 2002 Desa Teluk Pandan di wacanakan menjadi Kecamatan Teluk Pandan, dalam kurun waktu 1 tahun Kepala Desa Teluk Pandan (Andi Mappasereng) dan berbagai elemenpun membentuk tim, dengan sebutan Nama TIM 9. Mereka bekerja dan memekarkan beberapa desa persiapan seperti Desa Martadinata, Desa Suka Damai, Desa Danau Redan, Desa Kandolo, Desa Suka Rahmat. Sebagai salah satu persyaratan untuk menjadi Kecamatan. Dan Teluk Pandan sudah genap memiliki 6 Desa. Tidaklah mudah kerja Tim 9 usulannya pun slalu putus di tangan Wakil Rakyat, hingga akhirnya Kepala Desa Teluk Pandan, Tim 9, bersama warga masyarakat harus turun melakukan aksi berunjuk rasa (Demo) ke Kantor gedung DPRD Kutai Timur.
Tepatnya pada tanggal 18 November 2005, pada saat itu Bupati Kutai Timur Bapak H. Mahyuddin,ST MM menyatakan Teluk Pandan resmi menjadi Kecamatan Teluk Pandan, dan Desa Teluk Pandan pun menjadi Ibu Kota Kecamatan dan di pimpin oleh seorang CAMAT Teluk Pandan yaitu Bapak Drs H. Muh Rustam Toaha. Dan pada tahun 2007, tongkat kepemimpinan seorang Camat di ambil oleh Ny Drs Hj Hanasiah, MSi sampai Juli 2009. Kemudian H. Saifuddin, S.Sos , Drs Amir dan sekarang Bapak Anwar S.Pd.
